PERADABAN TAHU BULAT
April 17, 2025
Oleh nashihul
Korupsi bukan lagi sekadar tindakan kriminal, ia adalah bentuk evolusi sosial. Jika manusia purba beralih dari nomaden menjadi agraris, maka manusia modern berevolusi dari beradab menjadi biadab. Sebuah fenomena melenceng, di mana satu borok korupsi bisa menyebar dan membentuk borok-borok yang lain, seperti jamur sehabis hujan, seperti tukang tahu bulat yang tiba-tiba bermunculan.
Yang unik dari korupsi adalah kemampuannya beradaptasi. Ia tidak terikat ruang dan waktu. Di negara demokrasi, ia memakai jas. Di negara otoriter, ia pakai seragam. Di desa, ia berbentuk dana fiktif. Di kota, ia menyamar jadi proyek strategis nasional. Ia begitu cair, mungkin karena sering dicuci.
Koruptor pun berkembang seperti spesies tersendiri. Mereka memiliki insting yang sangat kuat terhadap aroma uang, meskipun masih dibungkus dalam amplop cokelat atau disamarkan dalam anggaran "pengadaan kursi rapat multifungsi". Mereka tahu kapan harus tersenyum di depan kamera, dan kapan harus pura-pura sakit saat dipanggil KPK. Bahkan sebagian dari mereka memiliki keahlian membuat kutipan bijak untuk ditulis di caption Instagramnya.
Para koruptor rata-rata jago menggunakan istilah seperti “penyesuaian anggaran”, “efisiensi biaya”, dan “bantuan langsung tidak langsung yang belum dicairkan karena dinamika administratif.” Semuanya terdengar penting, seolah menganggap semua rakyat bodoh.
Lalu muncul pertanyaan ilmiah: Mengapa korupsi begitu awet? Apakah ia mengandung formalin moral? Ataukah sistem kita memang dirancang agar ia bisa berkembang biak tanpa kendala, seperti lumut di batu?
Sosiolog berkata, “Ini masalah budaya.” Psikolog bilang, “Ini tentang moral individu.” Politisi menimpali, “Ini fitnah dari oposisi.”
Sementara rakyat pada bengong.
Korupsi pada akhirnya adalah bentuk seni. Ia dimainkan oleh tangan-tangan licin dengan naskah panjang dan judul besar: "Untuk Kepentingan Masyarakat." Padahal masyarakat tidak pernah diajak buat naskahnya. Mungkin sudah saatnya kita menyadari bahwa transparansi bukan hanya soal laporan digital, tetapi juga tentang menyamakan definisi "jujur" antara rakyat dan pejabat.
Karena selama definisi "jujur" masih dinegosiasikan di ruang rapat ber-AC, dan "kesejahteraan" masih hanya berarti terpenuhinya tunjangan pejabat dan kroninya, maka korupsi akan terus hidup. Ia tidak butuh tempat persembunyian. Ia hidup di antara kita, tersenyum di baliho, dan sesekali membagikan sembako.
PERADABAN TAHU BULAT
Reviewed by nashihul
on
April 17, 2025
Rating: 5