SENJA YANG MENOLAK REDUP
September 15, 2026
Oleh nashihul
Ada orang yang memasuki usia senja dengan tenang. Anak-anaknya telah tumbuh, rumahnya cukup, kebutuhannya sederhana. Ia tidak lagi sibuk mengejar apa-apa, sebab ia tahu bahwa tidak semua yang bisa dimiliki harus dimiliki.
Sebagai seorang pemuda, saya sering melihat orang-orang tua seperti itu dengan sedikit rasa iri. Mereka tampak begitu ringan menjalani hidup. Tidak sibuk mempertahankan apa yang sudah waktunya dilepaskan. Tidak perlu memastikan namanya selalu disebut, kursinya selalu tersedia, atau pengaruhnya tetap bekerja di balik layar.
Tetapi ada pula orang yang memasuki usia senja dengan cara berbeda. Rambutnya memutih, langkahnya melambat, tetapi tangannya masih erat menggenggam kekuasaan. Jabatan dipertahankan, pengaruh diperebutkan, dan kepentingan dijaga seolah-olah negara adalah perusahaan keluarga yang sahamnya diwariskan turun-temurun.
Lucunya, sebagian dari mereka mungkin pernah berbicara tentang keadilan. Tentang negara hukum, kepentingan rakyat, dan pentingnya menghormati konstitusi. Tetapi ketika menyangkut kursi dan kekuasaan, prinsip-prinsip itu menjadi sangat lentur dan becek.
Kita yang terus belajar memahami hukum jadi bertanya-tanya. Apakah hukum memang dibuat untuk membatasi kekuasaan, atau hanya untuk memastikan perebutan kekuasaan berlangsung dengan prosedur yang terlihat sah?
Sebab secara hukum, jabatan mungkin memiliki masa berlaku. Kekuasaan juga memiliki batas. Bahkan konstitusi pun tidak mengenal konsep “selamanya”. Tetapi manusia kadang lebih keras kepala daripada norma hukum yang mengaturnya.
Mungkin, sebelum Maudy Ayunda berbicara dan viral, mereka juga pernah mendengar tentang mindfulness. Hidup pada saat ini, menerima keadaan, melepaskan keterikatan, dan berdamai dengan diri sendiri.
Hanya saja, bisa jadi sebagian golongan senior salah memahami konsep “hadir pada saat ini”. Mereka terlalu hadir dalam setiap rapat, setiap lobi, setiap kontestasi, dan setiap perebutan pengaruh. Begitu hadirnya, sampai lupa bahwa suatu hari mereka tidak akan hadir lagi.
Dari sudut pandang kami yang masih muda, pemandangan itu terasa agak ganjil. Kami sedang mencari masa depan, sementara sebagian mereka justru sibuk mempertahankan masa lalu. Kami sedang belajar bagaimana mendapatkan kesempatan, sementara mereka sibuk memastikan kesempatan tidak jatuh ke tangan orang lain.
Padahal, kekuasaan itu seperti halnya barang bukti di ruang sidang, pada akhirnya hanya akan menjadi sesuatu yang ditinggalkan setelah perkara selesai. Nama mungkin tercatat dalam sejarah, tetapi jabatan tidak ikut masuk ke dalam tanah. Tidak ada lobi dan negosiasi di bawah sana.
Pada akhirnya, usia tua tidak selalu membuat seseorang menjadi bijaksana. Ada yang semakin pandai melepaskan, ada pula yang semakin takut kehilangan. Apalagi disampingnya ada Gibran.
SENJA YANG MENOLAK REDUP
Reviewed by nashihul
on
September 15, 2026
Rating: 5