BUAT KAMU YG LAGI SUMPEK
Kita sering lelah bukan karena berjalan jauh, tapi karena membawa yang tak perlu.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi diam-diam menjelaskan kondisi hidup banyak orang hari ini.
Kita mengira kelelahan datang dari panjangnya perjalanan hidup, dari pekerjaan, tuntutan ekonomi, relasi sosial, atau kerasnya realitas. Padahal sering kali yang membuat langkah terasa berat bukan jaraknya, melainkan beban yang kita pilih untuk terus dipikul.
Beban itu tidak selalu terlihat. Ia bisa berupa dendam lama yang tak kunjung dilepas, kecemasan tentang masa depan yang belum tentu terjadi, gengsi yang dipelihara, pikiran yang kusut, atau kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain.
Kita berjalan membawa masa lalu di punggung, ketakutan di tangan, serta kekhawatiran di jidat, lalu heran mengapa hidup terasa sesak.
Di sinilah bulan puasa hadir bukan sekadar sebagai ritual menahan lapar dan haus, tetapi sebagai latihan meletakkan beban.
Puasa mengajarkan pengurangan. Mengurangi makan, mengurangi amarah, mengurangi kata yang tak perlu, bahkan mengurangi ego yang selama ini diam-diam ingin selalu menang.
Dalam pengurangan itu, manusia justru menemukan ruang yang lebih luas di dalam dirinya. Tubuh mungkin lapar, tetapi hati menjadi ringan. Ramadhan seperti pengingat tahunan bahwa hidup tidak selalu membutuhkan tambahan, kadang justru membutuhkan pelepasan.
Kita tidak harus membawa semua opini orang. Tidak harus memenangkan semua perdebatan. Tidak harus terlihat sempurna di mata dunia. Puasa mengajak kita bertanya dengan jujur. Apa saja yang sebenarnya tidak perlu lagi kita bawa?
Mungkin rasa iri.
Mungkin luka lama.
Mungkin kebiasaan menunda kebaikan.
Atau mungkin kesibukan yang menjauhkan kita dari makna hidup itu sendiri.
Saat beban itu perlahan dilepas, perjalanan yang sama tiba-tiba terasa lebih ringan. Hari tetap 24 jam, pekerjaan tetap menumpuk, masalah tidak langsung hilang, tetapi hati menjadi lebih lapang untuk menjalaninya.
Itulah semangat menyambut bulan puasa, bukan menyiapkan diri untuk menahan, melainkan untuk membersihkan. Sebab Ramadhan bukan tentang seberapa kuat kita menahan lapar, tetapi seberapa berani kita meninggalkan hal-hal yang selama ini membuat jiwa lelah.
Salah satu ciri sempurnanya keislaman seseorang ialah meninggalkan perkara yang tidak memberi manfaat baginya. Lalu, soal keaslian ijazah Jokowi membawa manfaat tidak? Bulan puasa ini tinggalin dululah ya. Fokus ibadah. Habis puasa kejar lagi, hehe.
Pada akhirnya, hidup bukan soal berjalan lebih cepat, melainkan berjalan lebih ringan menuju arah yang diridhoi Allah SWT.
BUAT KAMU YG LAGI SUMPEK
Reviewed by nashihul
on
Februari 18, 2026
Rating: 5