PUNCAK ITU "DINGIN"
Jika ketidakmampuan bisa duduk di puncak kekuasaan, maka keadilan memang sedang cuti panjang. Antara Gibran atau Zohran, ibarat tempurung hanyut dengan kelapa muda yang menawan.
Gibran, bagi banyak orang, bukan simbol harapan, melainkan bukti betapa rendahnya standar kepemimpinan Indonesia hari ini. Bukan soal usia semata, tapi soal isi kepala, kedalaman nalar, dan kemampuan berdialektika.
Adapun Zohran, he is far far beyond Gibran and his father. Not even far, but far away. Kalau kamu mengikuti Zohran Mamdani, wali kota termuda kota New York. Kita beharap ada orang seperti dia di Indonesia. Mumpuni dan menang pemilu.
Lalu bagaimana dengan Prabowo Subiyanto? Intinya dia lebih muda daripada Donald Trump. Dan dia berhasil mengorbitkan anak muda ganteng menjadi wakilnya. Suatu prestasi yang harus dicatat dalam buku-buku sejarah bangsa ini.
Anyway,
Kalau kamu mendaki gunung, di sana ada satu pelajaran sederhana, jika pemimpin di depan salah memilih jalur, rombongan di belakang pasti tersesat. Tapi di negeri ini, pemimpin yang salah arah justru sering dipertahankan, bahkan dipuja. Ketika kebijakan gagal, yang disalahkan cuaca. Ketika rakyat menderita, yang diminta sabar adalah rakyatnya.
Di atas gunung, tidak ada ruang untuk pemimpin yang incompetence. Salah hitung logistik, satu tim bisa kelaparan. Salah baca situasi dan cuaca, nyawa jadi taruhannya. Alam tidak mengenal pencitraan. Tidak ada konferensi pers untuk menutupi kesalahan. Tidak ada buzzer yang bisa mengalihkan badai.
Gunung mengajarkan kejujuran. Lelah ya lelah, salah ya salah. Negeri ini justru mengajarkan sebaliknya, bahwa kesalahan bisa dirayakan asal dibungkus retorika, dan kejahatan bisa dinormalisasi selama dilakukan berjamaah.
Mau tahu kenapa hal ini terus berulang? Karena rakyat Indonesia gemar mengulangi kesalahan. Rakyat Indonesia lebih memilih "sawit" dibanding "gaharu". Rakyat Indonesia sangat mencintai uang. Cintanya menembus asa dan harapan, lalu mendarat di tepian penderitaan. Ampunlah!
Tidak ada komentar: